Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

[TEASER] HABIBIE & AINUN



Cinta Sejati Ost Habibie & Ainun ~ Bunga Citra Lestari

Manakala hati menggeliat mengusik renungan
Mengulang kenangan saat cinta menemui cinta
Suara sang malam dan siang seakan berlagu
Dapat aku dengar rindumu memanggil namaku

Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu
Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku

Sukmaku berteriak, menegaskan ku cinta padamu
Terima kasih pada maha cinta menyatukan kita
Saat aku tak lagi di sisimu
Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah

Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Saat aku tak lagi di sisimu

Ku tunggu kau di keabadian
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan

Pasti tahu cinta kita sejati
Lembah yang berwarna
Membentuk melekuk memeluk kita
Dua jiwa yang melebur jadi satu
Dalam kesunyian cinta

Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapa pun insan Tuhan
Pasti tahu cinta kita sejati
Satu lagi film penghias dibulan Desember ini, pengantar akhir tahun dengan penuh makna pada tiap amanatnya. Diangkat dari buku biografi yang ditulis sendiri oleh Habibie ini memang memiliki cerita yang sangat romantis. Ini adalah kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun.


Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya.Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Tapi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia iman pada visi dan mimpi Habibie. 

Mereka menikah dan terbang ke Jerman.Punya mimpi tak akan pernah mudah. Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu.Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Kemudian pada satu titik, dua belahan jiwa ini tersadar; Apakah cinta mereka akan bisa terus abadi?






"kamu bisa belajar tentang semangat gapai mimpi, kesetianmu pada cinta pertama dan terakhirmu, tanggung jawab, pengorbanan, pengabdian, kesabaran, tabah, syukur, "

[kutipan : http://radipt.wordpress.com]

Cerita ini dimulai dengan kisah masa remaja Ainun (diperankan oleh Bunga Citra Lestari) yang masih duduk di bangku SMA pada tahun 50-an. Ainun remaja adalah sosok yang cerdas, berani, supel, dan anggun. Pertemuannya dengan Rudy (panggilan Habibie masa itu) berawal ketika Habibie (diperankan oleh Reza Rahadian) menjadi murid pindahan ke kelas Ainun. Disitulah, mulai “timbul perasaan-perasaan” antara keduanya. Lalu, adegan berganti dengan cepat ke Jerman pada tahun 1963, dimana Habibie sedang memberikan konsep kerjanya kepada kolega-koleganya yang tiba-tiba jatuh  karena penyakitTBC yang sudah lama dideritanya. Adegan berganti kembali ke pelataran SMA Ainun dan Habibie, dimana Habibie remaja (diperankan oleh Esa Sigit) mengejek Ainun remaja dengan sebutan “hitam, gendut, seperti gula jawa!” yang pada adegan selanjutnya, tahun 1962, setelah Habibie pulang dari Jerman, ia mengantar Fanny, adiknya, berkunjung ke rumah Ainun. Disitu, si ‘gula jawa’ telah berubah menjadi ‘gula pasir’ yang cantik, putih, dan lebih anggun.
Singkatnya, Ainun pada masa itu adalah kembang desa. Banyak laki-laki baik dari dalam maupun dari luar kampung yang bersedia datang dengan mobil menterengnya untuk sekadar bertemu, bahkan melamar Ainun. Namun demikian, hatinya telah terpaut pada Habibie semenjak pertama kali ia bertemu dengannya. Momen-momen terbaik dalam film ini tentu adegan ketika Habibie dan Ainun berada dalam satu scene, salah satu scene favorit saya adalah ketika Habibie melamar Ainun di dalam becak. Adegan ini, bisa dibilang, memegang peranan penting dalam keberlangsungan seluruh cerita, dimana Habibie berjanji kepada Ainun bahwa ia “tidak bisa menjanjikan apa-apa”, namun berkomitmen untuk “menjadi suami yang baik untuk Ainun.”
Setelah menikah, Ainun memutuskan untuk ikut pergi ke Jerman menemani suaminya. Waktu berselang, Ainun merasakan keganjilan yang membuat dirinya menjadi penghambat kinerja dan produktivitas Habibie dengan proyek yang sudah dibangunnya di Jerman. Namun, dalam ke’gelapan’ dan ke’tersesatan’ pada masa-masa itu, Habibie mengatakan bahwa mereka “sedang berada dalam terowongan yang gelap dan panjang, dan setiap terowongan pasti memiliki ujungnya, cahaya,” dan berjanji kepada Ainun untuk “membawanya ke cahaya itu, bagaimanapun caranya.” Setelah rezim Soeharto dan mandatnya resmi dicabut, dan Habibie mengajukan diri untuk menjadi presiden, berbagai masalah dan hambatan mulai menerpanya. Ainun, yang sudah resmi menjadi dokter anak di Jerman, mulai menemukan keganjilan-keganjilan, seperti seorang pesuruh yang ingin mencoba bekerjasama dengan Habibie, padahal ingin menjatuhkan dan merebut proyeknya, atau seperti seorang calo yang mencoba me’nyuap’ Habibie dengan jam tangan emas dan uang tebusan agar hanya Habibie mau membagi proyeknya dengannya.
Perjalanan luar biasa Habibie dalam membuat pesawat terbang Indonesia pertama, N250, akhirnya terbayar sudah pada penerbangan perdananya yang disaksikan oleh Presiden Soeharto (ini sebelum Habibie menjadi presiden). Salah satu impian Habibie kepada negara, dan kepada Ainun untuk “membuatkan pesawat yang paling aman untuknya” telah terwujud. Semua itu tiba-tiba berubah menjadi kesenduan dan pengalaman pahit yang harus dihadapi Habibie ketika Ainun divonis mengidap kanker ovarium stadium lanjut. Ainun akhirnya dirawat di LMU Klinik Munchen selama kurang lebih 10 tahun (2000-2010), membuat luka mendalam di hati sanak saudaranya, terutama Habibie. Seorang perempuan baja yang bertahan selama satu dekade melawan kanker yang dideritanya, pendukung setia dan kawan karib yang selalu menebarkan kasih sayang, cinta, dan nasihat yang tak akan dilupakan oleh siapa saja yang beruntung untuk mendapatkan itu semua.
Ceritanya berakhir dengan meninggalnya Ibu Ainun Habibie pada tahun 2010; satu adegan perpisahan Habibie dengan Ainun yang membuat air mata ini tak sanggup ditahan. Adegan terakhir yang membuat semua penonton tidak mampu untuk menyembunyikan rasa haru sekaligus bahagia yang begitu mendalam pada kedua sosok paling penting di ranah negeri. Kata-kata singkat dari Habibie, “Jangan tinggalkan saya, Ainun” rasanya sudah menorehkan kesan paling dalam dan romantis pada sosok seorang orang nomor satu di Indonesia.
Saya memberikan 5 bintang untuk film ini. Sempurna! Reza Rahadian dengan apiknya memerankan tokoh Pak Habibie. Cara jalannya, gaya celingukannya, bicaranya, dan logat Jermannya. Sungguh mustahil rasanya bagi saya untuk tidak memberikan kredit untuk Reza Rahadian. Begitu mustahil untuk tidak diingat. Seluruh scene yang dimainkannya terasa begitu flawless dan tidak tampak dibuat-buat, seolah-olah Reza pernah berada dalam situasi dan kondisi rumit yang pernah Pak Habibie dulu rasakan. Hampir tidak ada kekurangannya. Mungkin, pada beberapa scene, dialog antara Habibie dan tokoh lain terdengar agak tidak jelas karena cepatnya cara bicara Reza, ditambah dengan logat Jerman (yang mengucapkan huruf ‘w’ menjadi ’v') sehingga agak mengganggu dan membuat penonton agak linglung. Tapi, secara keseluruhan semuanya tampak mulus berjalan. A world-class acting. Dalam film ini, Reza patut mendapat penghargaan! Sama halnya dengan Reza, Bunga Citra Lestari juga sangat apik dalam memerankan Ibu Hasri Ainun Habibie. Keanggunan, ketangguhan, dan kecerdasan yang melekat pada sosok Ibu Ainun tergambar secara implisit pada diri Bunga. Beberapa aktor dan aktris kondang juga turut meramaikan film ini, seperti Bayu Oktara, Tio Pakusadewo, Ranti Riantiarno, dan Hanung Bramantyo.
Chemistry antara Reza dan Bunga sungguh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Terlebih lagi, alunan musik yang mengiringi jalan cerita sesuai dengan tema cerita sangat membuat saya tersentuh. Jujur, musik dalam film ini benar-benar membuat saya jatuh hati. Tembang andalan dari Bunga Citra Lestari berjudul “Cinta Sejati” menambah kehangatan dalam film drama romantis ini.
Setting dalam film ini mengambil tempat di Bandung dan beberapa kota-kota di Jerman tempat Pak Habibie dan Ibu Ainun tinggal dulu. Pemandangan burung-burung di pelataran halaman luas yang selalu berkerumun setiap kali ada orang yang memberikan makanan selalu membuat saya terperangah takjub.View dan scenery yang memanjakan mata juga hadir pada beberapa scene, membuat film ini makin indah dan begitu berkesan.
Banyak sekali pelajaran yang saya petik dari film berdurasi tidak lebih dari 120 menit ini, bahwa seorang perempuan yang cerdas itu tidaklah silau akan harta laki-laki. Selain itu, ia juga harus mampu menemukan jati dirinya sebagai seorang istri, ibu, sekaligus kodratnya sendiri sebagai seorang perempuan. Adapun sosok suami, ayah, dan laki-laki pada Pak Habibie yang merupakan sosok baru yang saya bangun untuk saya ambil sikap-sikap teladannya, bahwa laki-laki harus memegang janji sesuai dengan skill-nya, tidak asal melontarkan rayuan gombal dan menjanjikan ini-itu, yang padahal tidak pernah ada.
Sebuah pengertian cinta yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi tertuang dalam sebuah film karya Faozan Rizal ini. Pemeranan dua sosok paling penting yang pernah menjabat sebagai orang nomor satu dan orang paling berpengaruh di Indonesia sekaligus oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari rasanya sungguh sayang jika dilewatkan dalam film Habibie & Ainun. Sebuah definisi akan kesetiaan dan ketangguhan seorang B.J. Habibie dan Hasri Ainun Habibie yang cinta, pengorbanan, dan kerja kerasnya akan terus terkenang dalam benak orang-orang yang masih dan terus mencintainya. Sebuah kebebasan dalam ketidakadilan dan kebimbangan pada dunia seorang perempuan sungguh tergambar jelas dalam film ini.
Dibalik kehidupan seorang pemimpin, ada dua sosok yang menjadi penentu: ibu dan istri. – B.J. Habibie.
Doa Pak Habibie untuk Ibu Ainun:
MANUNGGAL
Allah, lindungilah kami
Dari segala gangguan, godaan dan kejahatan
Yang datang dari luar dan dalam
Mencemari yang Engkau tanam di diri kami, Bibit Cinta
Cinta, Murni, Suci, Sempurna dan Abadi
Sepanjang masa, kami siram tiap saat dengan kasih sayang
Kami bernaung dan berlindung dibawah Bibit Cinta ini
Cinta yang telah menjadikan kami Manunggal
Manunggal Jiwa, Roh, Batin dan Nurani kami
Sepanjang masa, sampai Akhirat
Terima kasih Allah, Engkau telah pisahkan kami
Sementara berada dalam keadaan berbeda
Istriku Ainun dalam Dimensi Baru dan Alam Baru
Saya dalam dimensi Alam Dunia
Terima kasih Allah, sebelum kami dipisahkan
Engkau telah jadikan kami manunggal
Saya manunggal dengan Ainun sepanjang masa
Memperbaiki, menyempurnakan dan menyelesaikan
Rumah kami di Alam Dunia sesuai dengan keinginanMu
Ainun manunggal dengan saya sepanjang masa
Membangun “Raya” kami yang Abadi di Alam Baru
Murni, Suci dan Sempurna sesuai dengan keinginanMu
Terima kasih Allah, Engkau telah menjadikan bibit CintaMu ini
paling Murni, paling Suci, paling Sejati, dan paling Sempurna
Sifat ini di seluruh Alam Semesta hanya mungkin dimiliki engkau
Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun manunggal dengan saya sesuai kehendakMu di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat


Review 
Judul : Habibie & Ainun
Pemain : Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari, Ratna Riantiarno, Hengky Sulaiman, Bayu Oktara
Sutradara :Faozan Rizal
Genre : Drama Romantis
Produser : Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi : MD Pictures

Jumat, 07 Desember 2012

Sinopsis 5 cm








Genre : Drama, Petualangan

Tanggal Rilis Perdana : 12 Desember 2012

Studio : Soraya Intercine

CAST & CREW

Sutradara : Rizal MantovaniProduser : Sunil Soraya

Penulis Naskah : Donny Dhirgantoro

Pemain : Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Pevita Pearce, Igor Saykoji, Denny Sumargo

PLOT CERITA


"17 Agustus di puncak tertinggi Jawa, 5 sahabat 2 cinta, sebuah mimpi mengubah segalanya".


Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan belasan tahun lamanya. Suatu hari mereka berlima merasa 'jenuh' dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.
Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlimapun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dantantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia.
Sebuah perjuangan atas impian, perjalanan hati yang merubah hidup mereka untuk selamanya.


Sinopsis


Kisah tentang 5 sahabat yang udah berteman selama 7 tahun lamanya. karna terlalu sering bersama, mereka semua ngerasa kebersamaan itu mulai hampa, topik yg diomongin itu-itu terus, dan mereka sadar pergaulan mereka hanya terbatas ber5 aja,,Hingga walaupun berat bgt, akhirnya mereka mutusin buat ga ketemu dlu selama 3 bulan .. ga boleh telfon, sms, atau negur klo ketemu dijalan.. Berat memang.. tapi semoga ini bisa memperbaiki hubungan  mereka ..


Hingga akhirnya selama 3 bulan mereka mulai meleba
rkan sayap masing2, ngurus skripsi yg ga kesentuh, konsen ke kerjaan dan asmara dan lain-lain.. Walaupun mereka selalu memendam rasa kangen yg luar biasa satu sama lain, mereka ga bisa berbuat apa2 hingga 3 bulan,,

Tapi bukan itu sebenrnya inti cerita novel ini ..Kekuatan novel ini adalah cerita setelah cerita itu ..Ketika akhirnya setelah 3 bulan mereka kembali bertemu dan memutuskan untuk pergi bersama menaklukan puncak tertinggi di pulau jawa.. Ya menaklukan Mahameru ..Disinilah banyak inspirasi muncul, disinilah kekuatan cerita yg sebenarnyaa .. Ketika mereka berjuang menaiki mahameru, ketika mereka terkagum2 akan indahnya danau diatas gunung, padang ilalang seperti di afrika, hingga ttg samudra diatas laut .Ketika perjuangan diikuti dengan ujian yg tidak ringan, ketika rasa putus asa datang dan pergi. Disinilah banyak hikmah kehidupan yg bisa dipetik .. Disinilah kita tahu maksud dr kuota Henry Dunant (Bapak Palang Merah Dunia) yg mengatakan bahwa "Sebuah negara tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang dihutan, gunung, dan lautan" Disinilah letak kekuatan novel ini ..Dan ketika kekuatan mimpi dan cita-cita melahirkan keyakinan yg mengalahkan keputusasaan
Donny Dhirgantoro, sang penulis mampu menyihir pembacanya untuk meyakini bahwa jika memiliki mimpi maka taruhlah ia didepan kening (sambil menunjuk kening), bukan menempel pada kening, Tapi biarkan,, ia menggantung .. mengambang 5 centimeter di depan kening .. Jadi ga akan pernah lepas dr mata ..bawa mimpi dan keyakinan itu setiap hari, lihat setiap hari dan percaya bahwa kamu bisa mencapainya dan ga bisa menyerah (bukan ga mau nyerah) untuk mencapainyaa ..Ya .. biarkan keyakinan dan mimpi itu menggantung 5 cm dan sehabis itu yg kamu perlu cumaa ..Kaki yg akan berjalan lebih jauh dari biasanyaTangan yg akan berbuat lebih banyak dari biasanyaMata yg akan menatap lebih lama dari biasanyaLeher yang akan lebih sering melihat keatasLapisan tekad yg seribu kali lebih keras dari bajaDan hati yg akan bekerja lebih keras dari biasanyaSerta mulut yang akan selalu bersoa ...


”Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, di depan kening kamu jangan menempel, biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu”, yang membuat mereka yakin bahwa mereka pasti bisa menggapai itu semua."


(Donny Dhirgantoro)

Senin, 17 September 2012

The Little devil


Hari ini sangat cerah ,mungkin matahari juga ikut bersemangat mengantarku ke sekolah .Ini hari pertama aku masuk sekolah dan duduk di kelas XII.Teman-teman sekelasku benar benar berubah. Kami yang dulunya satu kelas di kelas XI tidak bisa lagi membuat keributan dikelas XII karena benar-benar terpisah. Tapi justru di sinilah awal mula TLD terbentuk, TLD singkatan dari “The Little Devils”. TLD terdiri dari 3 orang , aku (Mita), Riris, dan Nina. Nama itu di berikan oleh salah satu guru kami. Persahabatan kami semakin lengkap dengan adanya Anak Tiri , Zubedh (sahabat kami juga cy,,, tapi karena bergabung paling belakang jadi kami anggap begitu).Persahabatan kami pun kian hari kian dekat, perbedaan sifat yang kami miliki justru membuat kami merasa saling melengkapi. Riris yang moody-an, suka ngaret tapi kreatifnya tiada tanding, Nina yang egois tingkat tinggi tapi hatinya penuh kasih sayang terhadap sesama, Zubedh yang teledor tapi saaangat sabat menghadapi aku yang keras kepala tapi supel .
            Aku sangat senang dan bersyukur memiliki sahabat seperti mereka , yang selalu ada saat suka duka, yang selalu mendukung satu sama lain dalam segala hal, yang memberikan kasih sayang lebih dari saudaraku di rumah, pengertian akan apa yang terjadi pada sahabatnya yang lain, sampai banyak yang iri dengan persahabatan kami. Tapi meskipun sering jalan bersama, bercanda, belajar bukan berarti perjalanan persahabatan kami mulus lhoo... Kami juga sama seperti yang lainnya , sering salah paham , beda pendapat yang akhirnya ribut .Untungnya kami menghargai persahabatan dan arti seorang sahabat. Sehingga persahabatan kami bisa tetap berjalan utuh tanpa harus ada perpecahan.
*****
            Sekarang adalah saat-saat keramat bagi siswa siswi kelas XII. Bagaimana tidak, inilah saatnya penentuan bagi kami mau di bawa kemanakah masa depan kami nanti . Ya ... UJIAN NASIONAL . Persiapan demi persiapan untuk kematangan pemahaman pun telah kami tempuh baik mental hingga fisik. Tapi disaat-saat seperti ini kami justru mendapat tugas tambahan dari guru kami untuk mengisi acara pensi yang rutin di selenggarakan setiap tahun. Awalnya kami senang dan sangat antusias dengan acara ini, karena kebetulan kami memang senang eksis di sekolah. Tapi ditengah-tengah perjuangan itu ada beberapa siswa yang tidak di izinkan mengisi acara tersebut oleh wali kelas mereka dengan alasan Ujian Nasional. Sebelumnya aku pun berfikir takut belajarku terganggu karena latihan drama musikal ini sementara ujian tinggal menghitung hari. Tapi Riris menyadarkanku , tidak ada hubungannya antara latihan drama dan ujian asalkan kita bisa mengatur waktu dengan tepat. Akhirnya TLD mencari pemeran-pemeran baru , dan aku rasa adik kelas kami ini pasti bisa memerankan tokoh dengan sukses. Kamipun berlatih dengan serius, meskipun TLD hanya sebagai peran pembantu dan pengarah adegan, tapi kami tidak pernah bolos latihan .
            Tapi .... lagi-lagi ada masalah yang bikin aku patah semangat dan putus asa. Salah satu pemeran jarangggg sekali datang untuk latihan, padahal dia adalah pemeran utama. Huhh,, latihannya mogok lagi , padahal waktunya tinggal 2 minggu lagi. Itupun 1 minggu di pakai untuk ujian nasional jadi tidak mungkin diadakan latihan. Rasa pesimisku semakin menebal, kata-kata bijak Riris sudah tidak bisa menyusutkannya , omelan pedas Nina pun tidak bisa meleburkan perasaan putus asa ini. Pikiranku bercabang antara drama pensi dan Ujian Nasional yang sudah di ambang pintu penantian. Aku harap secepatnya akan ada jalan keluar dari pemikiranku ini. Aku tak mau membuat guru-guru yang telah mendukung drama musikal ini kecewa, juga tidak mau membuat teman-teman yang telah menanti penampilan kami menjadi kesal karena drama itu di batalkan.
            Akhirnya Riris memutuskan untuk menambah pemain baru dari kelas XI untuk menggantikan kami. Sehingga kami tak perlu memikirkan drama dam memfokuskan fikiran pada Ujian Nasional. Aku dan Nina juga setuju dengan usulan Riris. Aku harap pemeran baru itu bisa menyesuaikan diri secara cepat dengan pemain yang lainnya. TLD hanya bertugas memantau jalannya latihan agar mereka ga keluar alur cerita yang sudah di siapkan.
            Tapi setelah keputusan itu , justru ada yang aneh pada Nina. Ia jarang sekali berkumpul dengan kami lagi. Nina lebih memilih berkumpul dan belajar bareng Tyo, cowok yang katanya menaruh hati pada Nina. Padahal sebelumnya ia bilang tak pernah minat untuk dekat dengan Tyo. Kalau ada masalah atau apapun Nina juga ga pernah cerita lagi pada kami, ia justru mengalihkan smuanya pada orang lain yang sebelumnya ia benci. Ada apa sebenarnya dengan Nina ?? Apa salah kami sampai membuat Nina menjauhi TLD ?? Ia tidak pernah mau menjawab jujur apa alasannya ia seperti itu, tiap kali ditanya kenapa dia berubah jawabannya pasti selalu “ahh , itu perasaan kalian aja kali.”
            Lama kelamaan aku gerah dengan sikap Nina yang kayak ini. Rasanya pengin banget menyidang Nina agar dia jujur pada kami. Tapi menurut Riris, masalah ini di selesaikan nanti aja setelah ujian, karena Ujian Nasional ini lebih penting. Sekarang anggaplah kami tidak ada masalah.
*****
            Ujian Nasional pun sudah lewat dan ternyata Nina mulai berubah seperti sebelumnya. Aku senang persahabatan kami bisa hangat seperti dulu. Aku sepakat dengan Riris dan Zubedh untuk melupakan masalah itu. Kami juga merancang rencana untuk mengisi liburan panjang setelah ujian, sambil menunggu hasil kelulusan. Nina punya ide yang aku rasa itu ide bagus , ia mengajak kami berlibur ke kampung halaman ibunya di daerah pedalaman Cirebon. Rasanya tidak sabar untuk segera menjelajahi daerah pedalaman itu. Pasti menyenangkan, apalagi bisa merasakan udara segar yang sangat sulit aku dapatkan di Jakarta. Kamipun sepakat untuk berangkat kesana satu minggu lagi. Tapi ... ada hal yang menjadi masalah, ya .. apalagi kalu bukan “uang”. Darimana biaya yang akan kami gunakan untuk perjalanan menyenangkan itu ?? Berfikir, berfikir, berfikir !!!
Mengamen, seru sih tapi apa bisa ?? Belum panas , gangguan preman yang minta jatah, capek naik turun dari bus satu ke bus lainnya.
Minta sama orang tua ?? Huhh,, kasian dong mereka belum lama ini kami sudah menguras uang mereka untuk ujian dan teman-temannya. Pastinya tidak mungkin.
Yang lebih nggak mungkin lagi kalau kami mengemis, dengan kata-kata ...
“Pak, Bu .. kasian kami.Beri uang untuk jalan-jalan dan berlibur, tolong bantuannya untuk ke Cirebon.”
Yang ada kami di tertawakan atau malah di caci maki lalu di usir tanpa hormat.
Hhhmmm ... biarlah mereka bertiga yang berfikir, aku sudah malas menyuruh otakku untuk berfikir. (efek belajar mati-matian untuk Ujian Nasional, hehe ..)
       Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba , LIBURRR .... Aku mau menghabiskan waktu seharian di rumah sambil bermalas-malasan. Tapi tiba-tiba handphone ku berdering, ku lihat dilayar muncul kata-kata 1 message received. Aku bergegas membacanya, ternyata dari Riris. Dia bilang kalau sudah menemukan cara mendapatkan uang dengan halal. Dia meminta TLD untuk berkumpul dirumahnya jam 1 siang. (Huahh, itukan waktunya tidur siang). Tapi ga apa-apa deh , dari pada liburanku di isi dengan hal-hal yang itu-itu saja dan tidak beguna lebih baik aku menyetujuinya. Kulihat jam menunjukan pukul 11 siang, perjalanan dari rumahku ke rumah Riris tidak sampai 20 menit jadi lebih baik aku tidur dulu.
       Tapi diluar dugaan, aku kebablasan tidur. Untungnya aku mendengar suara adzan Zuhur, aku pun segera berwudhu , shalat dan  bersiap-siap ke rumah Riris. Sesampainya disana aku lihat wajah ketiga sahabatku seperti mau menelanku hidup-hidup. Aku cuma bisa nyengir kuda dan untuk menutupi kesalahanku, cepat-cepat aku mengeluarkan es kelapa muda rasa durian kesukaan kami maksudnya agar mereka nggak melemparkan bogem mentah ke wajahku , hehe ...
Setelah menghabiskan satu gelas penuh es kelapa, aku sudah tidak sabar buat dengar apa sih ide Riris itu. Tapi Riris tidak menjawab dengan kata-kata, dia cuma menyodorkan plastik yang berisi jarum, benang, gunting, lem kain, dacron, kain flanel, dan beberapa design lucu. Aku rasa aku mengerti apa yang dimaksud Riris, membuat kreasi flanel untuk di jual dan kemudian mendapatkan uang dehh. Aku langsung bergerak mengambil keripik yang sedang Nina makan, menarik remote yang sedari tadi membuat Zubedh fokus pada layar TV di depannya. Hanya dengan sedikit senyuman dan lirikan mata kearah plastik-plastik di depanku mereka mengerti apa maksudku. Dengan sergap mereka mengambil peralatan yang di sediakan Riris.
       Hari sudah semakin sore, kreasi yang kami buat memang cukup banyak. Tapi belum cukup untuk berangkat ke Cirebon. Aku rasa masih harus membuat banyak kreasi lagi, tapi tak mungkin saat ini juga karena waktu tak mendukung. Kami sepakat untuk membawa peralatan itu ke rumah dan di kerjakan masing-masing dan setelah 3 hari semuanya harus sudah dikumpul. Kami harap dalam 3 hari itu, kami bisa membuat banyak agar uangnya bisa lebih.(Terlalu banyak berharap).
       Setelah 3 hari kami berkumpul kembali dirumah Riris untuk mengumpulkan hasil kerja kami. Hasilnya ... cukup deh sepertinya. Skarang waktunya menjual, baik secara langsung maupun online di facebook Thelittle_d@yahoo.com untuk mempromosikan hasil karya kami berempat. Dalam waktu 2 hari kami sudah bisa mengumpulkan keuntungan yang bisa dibilang lumayanlah. Tapi hanya bisa membiayai perjalanan ke Cirebon untuk 2 orang.Lalu bagaimana dengan yang 2 orang lagi ?? Sementara waktu yang kami pumya tinggal sedikit lagi. Kami mulai memutar otak lagi, tapi .. aku yakin yang berputar hanya otak Riris. Sementara otakku, Nina dan Zubedh ...... ya, berfikir juga.(hehe ... Jangan di bahas untuk yang satu ini). Tanpa di duga, Nina yang biasanya hanya diam dan menyetujui apapun ide itu tiba-tiba mengeluarkan idenya sendiri, entah ia dapat dari mana. Ia menyarankan untuk menjual kreasinya secara berkeliling kesekolah-sekolah. Hhmm ... aku rasa sahabatku cy egois tingkat tinggi ini ada benarnya juga, tak ada salahnya kami coba.
       Hari itu juga sekitar pukul 10.00 kami berkeliling kesekolah terdekat. Sedang asik dan semangat jualan tiba-tiba Zubedh menarik tanganku untuk berjalan di belakang bersamanya. Ia bilang ,ia kurang yakin dengan ide ini. Perasaannya bilang ini bukan ide yang bagus, aku hanya mengiyakan dan fikiranku melayang memikirkan kata-katanya. Aku mulai yakin dan mendukung perasaannya itu. Tapi ini ide pertama Nina, kita harus memotivasinya agar dia tidak takut untuk mengeluarkan pendapat di kemudian hari. Aku tidak tahu mengapa aku ikut ragu dengan ide Nina ini, melihat perjuangan Nina yang begitu semangat aku jadi malu. Sepertinya aku bukan sahabat yang mendukung saran sahabatnya sendiri.
       Tapi kekhawatiran aku dan Zubedh benar, sampai jam 6 sore saja hanya 3 pc yang terjual. Itupun barang-barang dengan harga yang relatif murah. Sudah pasti tidak cukup untuk ongkos berangkat ke Cirebon. Hari semakin malam, kasihan Nina dan Riris yang dari tadi semangat sekali menjual aksesoris itu. Mereka kelihatan sangat capek, maka aku putuskan untuk menunda aksi jual menjual itu.
*****
        Seharusnya hari ini kami berempat sudah berangkat ke Cirebon, mungkin saat ini kami sedang bernarsis-narsis ria diperjalanan, tapi itu semua harus pupus karena masalah biaya. Tapi tenanggg .... kami akan tetap merayakan kelulusan setelah pengumuman besok.(Yakin banget sihh bakal lulus, hehe ...). Tapi kepeleset jauh, Ancol. Ya, besok setelah pengumuman kelulusan itu kami akan berangkat ke Pantai Ancol. Kami sudah merencanakan kegiatan yang tidak kalah seru kok di sana. Rasanya sudah tidak sabar menanti besok. Aduh,, padahalkan belum tentu lulus, bagaimana kalu ternyata tulisan di dalam amplop nanti “ TIDAK LULUS”?? Aduh amit-amit dehh. Jantungku jadi berdebar kencang kalau ingat itu.
       Huahh ... tidur semalam jadi tidak nyenyak karena memikirkan kelulusan ini. Hari ini aku akan tahu awal mula masa depanku terbentuk. Aku bergegas berangkat kesekolah, ingin cepat-cepat sampai di sekolah dan tahu apa hasil ujian itu. Aihh ,, betapa kecewanya aku melihat pengumuman di papan pengumuman depan sekolah. Eittss ... bukan karena aku nggak lulus ya ... Dipapan itu ditulis :
“HASIL UJIAN DI UMUMKAN
PUKUL 11:00 WIB”
       Padahal sebelumnya diinfokan kalu pengumuman kelulusan akan diberi tahu jam 8 pagi. Tapi ternyata sekolah punya hobby seperti Riris juga ya, suka ngaret. Hehe ....
Yasudahlah, lebih baik aku menunggu di kantin sambil makan karena memang aku belum sarapan.Lagipula sekarang ketiga sahabatku juga belum kelihatan ada di sekitar sekolah .
Wahh, tanpa diduga ternyata Nina dan Zubedh sudah berkumpul di kantin, rajinnya mereka sudah datang lebih awal dari aku. Sedangkan Riris .... tak perlu ditanya dehh. Hehe ...
     Akhirnya , jam 11 juga. Kami pun langsung menuju lapangan untuk berkumpul, tapi yang ada di sana hanya Bapak KepSek. Dan lagi- lagi pengumuman di undur menjadi jam 2 siang. Huhh ... payah deh sekolah ini ngaret terus. Riris sih tenang-tenang saja karena dia baru datang, sedangkan  aku , Nina dan Zubedh sudah sangat kesal karena lama menunggu . Ya apa boleh buat , menurut sajalah . Ehh, tapi itu berarti acara merayakan kelulusan hari ini harus gagal lagi ?? Haduh, lagi-lagi batal deh.Yasudahlah , besok aja kami berangkat dari pagi sampai malam kalau bisa, hitung-hitung untuk meluapkan kekesalan kami. Untuk menunggu sampai jam 2, kami putuskan untuk beristirahat dirumah Nina aja karena rumahnya dekat dengan sekolah. Saking capeknya menunggu di sekolah tadi habis menyantap makanan yang disediakan ibunya Nina kami pun langsung tertidur dengan lelap.
       “Kringgg... Kringg... Kringg... “ Walah, alarm hp Nina serasa memecah gendang  telingaku. Tapi percuma alarm itu berbunyi di jam 14.40 , waduh .... telat deh . Dengan kecepatan 80 km per jam kami berlari menuju sekolah (lari apa naik motor cy sebenarnya? Ah, terserahlah hehe ...).Sampai disekolah teman-teman yang lain sudah berbaris di lapangan, guru-guru kami yang terbilang killer dan disiplin tingkat tinggi juga sudah di depan mereka semua .
Haduh , rasanya jantung mau copot karena 2 hal. Pertama karena guru killer itu sudah melihat sinis kearah kami, kedua karena hasil ujian. Untunglah ada bunda (wali kelas kami) yang langsung mempersilahkan kami duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. .
Jantung semakin kencang berdebar, seperti saat-saat perang akan segera di mulai dan detik-detik nyawa sudah di ambang pintu. Rasanya sudah tidak karuan perasaan ku ini. Sebelum membagikan hasil ujian itu Bapak KepSek memberikan arahan agar jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan , kita harus bersikap sabar. Tidak lama pak Kepsek ceramah akhirnya Bunda keluar dari ruangannya membawa beberapa tumpuk amplop , aku yakin itu adalah hasil ujian kami . Tapi sekolah ini memang senang membuat orang menunggu lama, ternyata Pak Kepsek meminta kami untuk masuk ruang kelas masing-masing dan nanti hasil ujian akan di bagikan di kelas . Ugghh ... menyebalkan , kami harus naik ke lantai 3 lagi. Seperti setrika saja dari tadi pagi kami belum juga dapat hasilnya . Semoga saja tidak di suruh balik turun lagi deh , bisa cacat kaki ku ini.
       Tapi sepertinya tidak deh, wajah Bunda udah serius banget dan sepertinya sudah siap untuk membagi hasil ujian ditangannya itu . Tanganku sudah gemetar melihat amplop-amplop itu, ayolahh bunda ... cepattt bagikan ! Hhhmm ... mata bunda kenapa seperti habis nangis ya ??
Dengan suara sangat lembut tak seperti biasanya bunda mulai bicara , ternyata ada 4 orang anak yang tidak lulus di kelasku. OMG ... apa aku termasuk salah satunya ??
Saat itu juga terbayang wajah mamaku mengangis karena aku tidak lulus, terbayang kekecewaan bapakku karena pengorbanannya selama ini mencari uang tidak ada hasil yang membanggakan dari aku. Aku lihat ketiga sahabatku menangis, mungkin mereka juga punya pemikiran yang sama denganku. Aku juga ga kuasa membendung air mataku, menangislah aku sejadi-jadinya.
Bunda juga ikut menangis memandangku, apa bunda sudah tau kalau aku salah satu dari anak-anak yang akan dinyatakan tidak lulus Ujian Nasional itu ??
Bunda mulai membagikan amplop kelulusan itu, melihat sahabat-sahabatku tersenyum dengan kelulusan mereka aku jadi iri. Kenapa namaku belum juga disebut ? Apa benar yang aku pikirkan ? Apa benar aku harus buat orang tuaku kecewa ? Ya Allah , aku takut.
Tapi untunglah panggilan bunda cepat menyadarkan aku dari negative thinking ini, aku bergegas mengambil amplop hasil Ujian Nasional itu dari tangan bunda. Tanpa ragu aku langsung merobek amplop itu, huhh ...... betapa leganya hati ini melihat kata “LULUS” di lembaran itu .
Aku segera menelpon mamaku di rumah agar mama ikut langsung merasakan kebahagiaan ini karena ini semua memang untuk mama ku tercinta. Ahh,, ternyata bunda berbohong . Ia cuma mau menakut-nakuti kami, faktanya kami semua lulus dengan nilai yang ... lumayan lahh .Aku melirik ke arah sahabat-sahabatku, tanpa aku tanya mereka sudah tau maksudku dan mengiyakan rencana besok.
       Aku pulang dengan hati senaaangg sekali seperti habis di tembak cowok yang aku suka atau mungkin lebih dari itu. Ingin segera melihat wajah mamaku yang gembira karena kelulusanku . Maklumlah, aku anak pertama yang lahir dari rahim mama yang merasakan kelulusan. Sampai dirumah, mama sudah menungguku di ruang tamu, mama langsung menarik tanganku dan mengambil amplop yang ku pegang. Baru ini aku melihat mama seneng banget , dan lebih seneng lagi karena itu semua berkat aku , hehe ... Bukan hanya itu, mama juga sudah masak kentang balado kesukaanku, beli es kelapa duren kesukaanku, kue cucur kesukaanku , ahh pokoknya semua serba kesukaanku deh . Enaknya kalau tiap hari seperti ini, hehe ...
*****
       Pagi-pagi sekali aku udah bangun menyiapkan keperluan untuk have fun bareng sahabat-sahabatku. Yaa ... meskipun cuma ke pantai Ancol tapi rencana kami disana cukup membuat kami repot dengan harus membawa semua buku-buku pelajaran yang kami pelajari saat mengikuti Pendalaman Materi (PM), buku-buku itu lumayan tebal lagi.
Tepat jam 09:00 aku berangkat menuju halte busway Pinang Ranti, kendaraan pemerintah yang sangat terjangkau. Wahh, tak pernah aku bayangkan ternyata yang sampai duluan justru si Ms.Ngaret , Riris. Semangat banget sahabatku yang satu ini. Hehe ... baguslah ada perubahan.
Tidak lama nunggu akhirnya Nina dan Zubedh datang juga, seperti biasa Nina yang di antar ojek pribadinya dan Zubedh dengan mobil angkot tercintanya.
       Di dalam bus aku dan TLD tidak bisa menyembunyikan kegembiraan ini alhasil tidak bisa juga mengunci mulut kami, intinya kami membuat keributan di dalam bus. Tapi siapa sih yang berani melarang kami ? Justru satu bus dan petugasnya pun ikut nimbrung , haha ... tidak tahan dengan lelucon kami. Tapi tiba-tiba seorang bapak gemuk nan seram menghampiri kami dan marah-marah tak jelas gitulah. Serentak kami mengunci mulut dan berpandangan dengan wajah melongo mirip sapi ompong, Aku tak kuat menahan tawa melihat wajah Zubedh yang sangat culun. Sahabat-sahabatku pun ikut tertawa berpandangan dan tak menghiraukan si Bapak yang sedang ngomel-ngomel itu. Parahnya kami juga tak minta maaf pada si Bapak, mungkin karena merasa tak di hargai oleh kami si Bapak langsung turun dari bus di halte berikutnya.
Waduhh ... kurang ajar kami ini, hehe ... tapi lucu sih.
       Akhirnya sampai juga di tempat tujuan kami, tidak sabar untuk cepat-cepat melempar buku-buku yang kami bawa ke tengah pantai. Ya, jadi rencana kami itu melempar buku kami ke tengah pantai, memang sih pasti tidak boleh tapi .. bandel sedikit tak apalah . Hehe . ..
Di tepi pantai para pengemudi perahu sudah berbaris sambil rebutan menawarkan jasa perahunya, tanpa direncanakan kami memilih si Abang perahu yang masih muda, maklum gejolak kawula muda . Hhmm ... ombaknya lumayan juga membuat perahu dan isinya bergoyang lembut. Tapi kasihan juga melihat Riris yang teriak histeris karena ketakutan, ditambah Zubedh yang mulai mengganggu dan menakut-nakutinya. Aku dan Nina hanya tertawa geli melihat tingkah mereka. Tepat di perbatasan bolehnya perahu berlayar yang kata si Abang sih itu sangat dalam, kami langsung melempar buku-buku yang kami bawa tapi masih kami sisakan buku paling tebal di antara buku-buku lainnya untuk membuat api unggun di tepi pantai jika malam tiba. Rasanya beban dipundak kami hilang dan terangkat karena tidak akan lagi bertemu dengan rumus dan soal seruwet itu. Karena aku juga tidak kepikiran untuk melanjutkan kuliah tahun ini karena orang tuaku bilang mereka belum sanggup membiayainya, jadi aku mau kuliah dengan uangku sendiri hasil kerja kerasku sendiri. Sahabat-sahabatku juga begitu, aku senang melihat mereka tertawa lepas seperti sekarang, apa nanti aku bisa ngerasain hal seperti ini lagi dengan mereka ?? Atau ini adalah kebersamaan kami yang terakhir ? Semoga tidak deh, karena aku dan TLD akan meneruskan usaha kecil-kecilan kami yang dulu pernah kami rintis, jangan sampai usaha itu harus bangkrut. Meskipun nantinya kami akan bekerja di tempat berbeda, aku sudah keterima bekerja di sebuah swalayan, besok Riris sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan swasta, Zubedh juga sudah di booking oleh sebuah pabrik elektronik terkemuka, dan Nina sedang menunggu panggilan di perusahaan tempat pamannya bekerja. Mungkin kami akan jaranggg sekali bertemu dan mengurus usaha kami. Huhh .. jadi sedih kalau ingat-ingat hal-hal seperti begini. Rasanya aku dan mereka sudah menyatu, bahkan lebih dari saudara.
       Sedang asik-asiknya memandang wajah-wajah sahabatku tidak terasa sudah sampai di tepi pantai, aku segera turun dari perahu, melepas sepatuku dan berlari ke bibir pantai. Kami tertawa lepas seperti burung yang baru bisa terbang, ingin mencoba terbang kesana kemari. Sampai tak terasa matahari sudah mulai ngumpet di balik pantai, kami juga tidak mau kalah . Kami bersiap membuat api unggun dari buku PM yang kami bawa, sayang sihh dibeli mahal malah dibakar begitu saja. Tapi tidak apa-apa deh , yang penting happy .... Belum habis buku-buku itu terbakar ehh sudah ada petugas pantai yang menegur kami, mumpung si petugas masih jauh lebih baik kami kaaabbbuuurrr ...... Haha lagi-lagi membuat orang lain kesel. Parahh !!
Karena terlalu kencang berlari, rasanya kakiku ingin copot dari persendian. Untunglah ada sebuah rumah makan yang kelihatannya terjangkau dengan kantong kami. Tanpa ragu kami masuk kedalam rumah makan itu, tanpa menunggu si pelayan menyuguhkan list menu kami langsung memesan apa saja yang ada di fikiran kami, sepertinya perutku juga setuju dengan makanan yang kami pesan.
Sepertinya aku tidak pesan banyak deh, tapi kenapa lama sekali ya, mereka tidak tau apa kalau kami tuh kelaparan. Ahh, untunglah mereka seperti mendengar rintihan perut kami. Dua orang pelayan membawa banyak piring kearah meja kami, rasanya sudah tidak sabar ingin mencicipi masakan yang katanya paling enak disepanjang jalan ini. Hhhmmm ... Yummy !! Tanpa banyak bicara kami langsung menyerbu makanan itu layaknya anak-anak jalanan yang sudah tidak makan berhari-hari.
       Seenak apapun makanan itu, tapi tetap saja tidak bisa membuat lambungku makan lebih banyak dari biasanya, lagi-lagi aku harus menyisakan makanan itu. Untung ada Riris yang setia menghabiskan makananku. Biarlah sahabatku yang satu ini jadi bertambah gembul, hehe ...
Aduh, kebiasaan manusia yang habis makan, kenyang, ngantuk. Ckckckck .... Aku menyuruh ketiga sahabatku untuk cepat menghabiskan makanannya. Dengan gaya ala pejabat-pejabat negara aku memetikan jari tanda memanggil salah seorang pelayan dan meminta dia untuk membawakan bill kami. Alamakkk .... ngeri kali aku liat bill itu. Sepertinya aku dan ketiga sahabatku tidak makan terlalu banyak deh, kok sampai semahal ini ya ??
Katanya ini rumah makan yang murah tapi apa ?? Haduhh .... bisa-bisa jalan kaki kami pulang dari sini. Tapi malu dong kalau kami bilang “aduhh mas, kami ngga punya uang” apalagi pelayan ini tampan. Akhirnya semua uang yang ada di kantong pun harus keluar dengan terpaksa, dari pada malu dan disuruh cuci piring di rumah makan ini. Tak apalah, asal ini dengan sahabat-sahabatku semua tetap terasa menyenangkan. Apalagi ini saat terakhir kami berkumpul, paling tidak setelah kelulusan.
       Lumayan capek hari ini, kami pulang dengan wajah kusut semerawut. Tidak layak disebut orang yang baru pulang liburan deh pokoknya. Bermodalkan uang pas-pasan kami harus sampai dirumah dengan selamat. Untungnya ada sopir yang setia menjemput kami dengan bus besar miliknya,, BUSWAY. Kendaraan ini memang tergolong mewah dengan AC dan kenyamanannya, pokoknya tidak akan nyesel deh kalau naik kendaraan umum yang satu ini. Alamakk ... kenapa jadi promo busway, aku kan mau cerita bagaimana serunya aku dan TLD.
Aku harap cita-citaku untuk menjadi seorang penulis bisa tercapai kedepannya, Nina yang ingin jadi model juga bisa tercapai, Riris yang terobsesi dengan usahanya akan berhasil dan Zubedh dengan hobbynya yang berubah-ubah juga bisa tercapai dan sukses kedepannya. Amin.

Akhirnya sampai juga di rumah, sudah kangen sama kasur empuk di kamarku. Tapi mama memaksaku untuk mandi dulu, huhh ... turuti sajalah itu juga kan untuk kesehatan. Habis mandi perutku terasa dangdutan lagi, padahal belum lama aku makan di rumah makan super mahal itu. Melihat hidangan di meja makan aku jadi ngiler, makan dulu dehh ... sayang kan kalau besok makanannya basi. Hehe ... alasan ! Sudah kenyang baru aku tidur . zzzzzzZZZZZZ 

Rabu, 12 September 2012

Ayah, mengapa aku berbeda ?


Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,

Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.

“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,

“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.

“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.

“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”

Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.

“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”

Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.

Pages